Yang ke duapuluh tujuhbelas

“Hidup ini adalah perjalanan panjang dan tidak selalu mulus. pada hari ke berapa dan pada jam ke berapa, kita tidak pernah tahu, rasa sakit apa yang harus kita lalui. Kita tidak tahu kapan hidup akan membanting kita dalam sekali, membuat terduduk, untuk kemudian memaksa kita mengambil keputusan. satu-dua keputusan itu membuat kita bangga, sedangkan sisanya lebih banyak menghasilkan penyesalan.”

― Tere Liye, Pulang

When I’m Around Her

Tumblr @herehk

Some other time, I found myself much problematic at expressing my feelings. Like, is there any way I can go without hoping for someone to actually understand me? I don’t really hope for that, but in most situations, I almost get burst in anger when someone doesn’t get what I meant. I played it nicely, of course, I’m not someone with many words. It seems like many other days when my sister asked me to help her with her Maths or when she wanted to learn the computer. I would usually say No because I don’t feel like it is a must to say Yes to things I won’t bother to do at that time.

Sometimes my parents would simply put up a fight on it for many hours before I finally could lend her my hand. It’s like being in a tug-of-war game anyway. I wasn’t being rude or cold towards others, but just like Melanie Martinez said: whatever, whatever.

As cold as I can be, her favour would always catch my heart. She doesn’t know that much, help her, I would say. It is as if every time I try to pull the rope from her back to help her get up. It is as if I’m reliable enough. What if I let go of the rope while the person holds it so tight?

Maybe I’m just a bit dramatic.

I do care, you do matter a lot, babe.

p/s: Salam Lebaran Syawal. 

It Should be the Beginning of, and the Reason For Everything

Berjalanlah pada jalan yang kamu tidak perlu menjadi orang lain untuk itu, kamu cukup menjadi dirimu sendiri. Kalau kamu harus membandingkan-bandingkan, kamu cukup membandingkan dirimu hari ini dengan masa-masa yang sudah kamu lewati.

Kamu tidak membutuhkan penerimaan dari semua orang, apalagi mengorbankan dirimu untuk bisa diterima oleh semua orang sementara kamu tidak bisa menerima dirimu sendiri. Cukupkanlah bahwa kamulah yang memang harus yang paling pertama bisa menerima dirimu sendiri, bukan orang lain. Kamu sebagai kamu seutuhnya, masa lalu yang mungkin kelam, segala kekurangan dan kelebihanmu hari ini, segala ujian dan nikmat yang datang kepadamu, bentuk fisik dan keadaan yang ada padamu, bukankah hal yang paling sulit dilakukan adalah menerima itu semua kemudian mensyukurinya?

Kalau nanti diperjalanan kamu bertemu dengan orang-orang yang memandang sebelah mata kepadamu, kepada apa yang kamu miliki, kepada pekerjaanmu, kepada nasabmu, kepada fisikmu, kepada segala hal yang selama ini membuatmu merasa berbeda dengan orang lain. Teruslah berjalan. Karena semakin lama kamu mendengarkan perkataannya, semakin lama kamu menatap matanya, kamu mungkin akan berubah pikiran untuk kembali menolak dirimu dan tidak mau lagi menjadi dirimu sendiri.

Penolakan orang lain memang menyakitkan tapi sungguh tidak ada yang lebih berat dan menyakitkan selain penolakan dari dirimu sendiri. Padahal sampai mati nanti, kamu akan hidup dalam tubuh dan sebagai jiwa yang itu adalah kamu sendiri, tidak bisa ditolak dan diganti, sementara suatu ketika kamu harus mempertanggungjawabkan semua itu.

Bukankah berat, menjadi diri sendiri?

— Kurniawan Gunadi, Tidak Mudah Menaklukan Dirimu

“We all have cracks and tears and shattered glass within our souls. Some have more than others. We do not wish to seek one who has none; but we wish to find the one who can say “look at me, look at this.” We wish to find the one who sees every bit of broken glass and who will put those pieces into the palms of our hands and say “please keep them.” And we wish to be that kind of person, too. This is how it should be.” C. JoyBell C.

“Sometimes we reveal ourselves when we are least like ourselves.” — Anaïs Nin (Henry and June: From “A Journal of Love”–The Unexpurgated Diary of Anaïs Nin (1931-1932))


——

Saya juga masih belajar untuk menerima tulisan ini 🙂