Yang ke duapuluh tujuhbelas

“Hidup ini adalah perjalanan panjang dan tidak selalu mulus. pada hari ke berapa dan pada jam ke berapa, kita tidak pernah tahu, rasa sakit apa yang harus kita lalui. Kita tidak tahu kapan hidup akan membanting kita dalam sekali, membuat terduduk, untuk kemudian memaksa kita mengambil keputusan. satu-dua keputusan itu membuat kita bangga, sedangkan sisanya lebih banyak menghasilkan penyesalan.”

― Tere Liye, Pulang

Surat-surat RA Kartini

Berkongsi sedikit isi-isi daripada buku Habis Gelap Terbitlah Terang (“Door Duisternis Toot Licht”), terjemahan oleh Armijn Pane. Kartini Raden Ajeng ini ialah seorang wanita yang dikagumi ideanya – bukan saja atas hal memperjuangkan hak bangsa Indonesia – malah sering menjadi suara bagi wanita lainnya.

Sewaktu kecil, Kartini pernah dimarahi oleh guru yang mengajarnya mengaji (membaca Quran) kerana dia bertanyakan maksud di sebalik ayat-ayat tersebut. Sejak itulah terjadinya konflik dalam diri Kartini.

“Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa? Agama Islam melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat agama lain. Lagi pula sebenarnya agamaku karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya? Al-Quran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan kedalam bahasa apa pun. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini orang diajar membaca Al-Quran tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibacanya itu. Sama saja halnya seperti engkau mengajarkan aku buku bahasa Inggris, aku harus hafal kata demi kata, tetapi tidak satu patah kata pun yang kau jelaskan kepadaku apa artinya. Tidak jadi orang sholeh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang yang baik hati, bukankah begitu Stella?”- Surat Kartini kepada Stella Zihandelaar, 6 November 1899

“Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlunya dan apa manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Quran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya, dan jangan-jangan guru-guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepadaku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa, kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya.” – Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 15 Ogos 1902

Juga ada waktu Kartini datang mengunjungi bapa saudaranya di Demak atas suatu hal pengajian. Inilah antara dialog Kartini bersama Kyai Sholeh Darat, sebagaimana yang telah dicatat oleh Nyonya Fadhila Sholeh, cucu kepada Kyai.

“Kyai, perkenankanlah saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?”

“Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh Darat kembali bertanya.

“Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

——

Ini ditulis bukanlah sebagai rujukan untuk sesiapa. I found this quite interesting to read – though I may not know how exactly the letters were originally written in  Dutch, yet the one I read interprets it for me how she wrote it  very thoughtful and beautiful. How can one not be impressed for a woman at the turn of 20th century to really have thoughts like woman nowadays? Unfortunately, she died at the very young age of 25 after giving birth to her first born child. The story doesn’t end up there, banyak lagi hal-hal yang terjadi setelah itu di mana kesukaran Kyai untuk menterjemahkan Quran pada waktu pemerintahan Belanda. I know this will be slow-going but I’m still trying to finish my reading.

Till then.

Not really a Wordless Wednesday

At last.

So this is like my first attempt giving away freebies after all this time asyik menulis lol I’m tired with words, and this entry isn’t really a Wordless Wednesday oh God what have I done? Screw the title. Last night I couldn’t sleep well thinking why I gave up on drawings and paintings long ago. Probably because I felt like everything I made on the blank papers were just shits people don’t want to see. It is so hard to admit that I’m never good with real brushes. But there was a day when I tried learning some weird photoshop and macromedia flash stuff on the Youtube and it suddenly moved my heart to at least produce some shits that might make people happy – thanks God my siblings like what I did. As for now, I’m planning to produce more stuff like this as well as trying to better myself. Of course, lots of things to do. If you need anything then email me or just leave me your comments down here.

I disable my right click function but you can just click on the image to save it. You can always use them. Such freebies aren’t worth the world yet please take care of my babies and don’t forget to give credits.

Till then.

Wishful Thinking

There are times you talk about family

For how they made you feel,

or they didn’t.

 

There are times you talk about friends

For good things, they’d promised,

or they hadn’t.

 

There are times you’ll talk about

People or things you care,

or you won’t.

 

Maybe it’s time for you to go

Maybe it’s time for you to change,

or maybe it’s just you

 

A person of wishful thinking.

That you wake up each day

To look forward to feeling

Something new —

Yet, it still feels the same.

 

That you speak to the whole world —

How infatuated you have been,

No more, no more,

“It’s it, I would first fall in love with.”

 

That you long for the moments

More than the persons themselves.

Of dancing stars and night skies,

To which you weep your tears most.

 

But —

It isn’t just you.